Budaya Makan Pinang di Papua Sebagai Warisan Budaya Nasional

Papua adalah sebuah daerah yang kaya akan segala hal, termasuk budaya makan pinang di Papua yang sering diteliti oleh para profesor dan mahasiswa di seluruh Indonesia. Tentunya kamu juga penasaran kan bagaimana detailnya? Yuk simak pembahasan di bawah ini dari awal hingga akhir.

Bagaimana Budaya Makan Pinang di Papua?

Berbicara tentang budaya, masyarakat Papua juga tak kalah dengan yang lain. Hal ini dikarenakan tradisi nenek moyang selalu diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya dan seperti sudah mendarah daging. Salah satunya adalah budaya makan pinang, berikut penjelasan lengkapnya:

Budaya Makan Pinang di Papua

  1. Budaya makan Pinang

Perlu diketahui bahwa masyarakat Papua gemar makan pinang karena bisa menguatkan struktur gigi dan gusi. Tidak hanya itu, mereka menganggap bahwa buah pinang memiliki rasa tersendiri yang tak kalah lezatnya dibanding jenis makanan yang lain.

Kombinasi rasa manis, asam dan pasta gigi seperti dilebur menjadi satu. Tak heran jika mereka ketagihan mengkonsumsi buah pinang ini. Bahkan pada beberapa kasus, masyarakat mengatakan bahwa tidak ada bumbu atau makanan lain yang menandingi lezatnya buah pinang.

Selain itu buah pinang terasa seperti candu, jika tidak dikunyah dalam sehari maka ada yang kurang dalam hidup mereka. Namun perlu diperhatikan bahwa buah pinang sama sekali tidak mengandung zat adiktif yang berbahaya, jadi aman untuk kesehatan.

  1. Ada Beberapa Ritual Kecil yang Dilalui

Budaya makan pinang di Papua dilalui dengan beberapa tradisi, ritual atau kegiatan khusus. Umumnya dinikmati dengan menggunakan tepung kapur yang diolah dari cangkang kerang dengan tujuan agar mengurangi rasa asam dan pahit dari getah buah pinang itu sendiri.

Perpaduan inilah yang membuat sensasi mengunyah pinang menjadi semakin nikmat. Selain itu juga ada batang sirih yang bisa dijadikan untuk menetralisir getirnya getah.

Saat mengunyah pinang ada beberapa ritual kecil yaitu awalnya dikupas menggunakan gugu kemudian isinya di kuah hingga hancur. Perlu diketahui bahwa buah pinang akan menghasilkan cairan. Tak heran jika buah pinang disebut sebagai permennya orang Papua.

  1. Siapa yang Paling Sering Makan Pinang?

Tahukah kamu siapa yang paling sering makan pinang? Jawabannya adalah kaum wanita yang sudah berumur lanjut. Namun tradisi ini sudah dilakukan sejak kecil dan turun temurun dari nenek moyang. Coba lihat, anak-anak Papua berumur 7 tahun sudah pandai makan pinang.

Tradisi tersebut berlangsung hingga merek berumur 80 tahun ke atas dengan gigi yang masih utuh dan sehat. Tak heran jika makan buah pinang ini terus diregenerasi karena khasiatnya yang luar biasa. Baik di pedesaan maupun kota besar, semuanya pernah makan buah pinang.

  1. Dimana Bisa Mendapatkan Buah Pinang?

Lalu dimana tempat orang menjual buah pinang? Tenang saja, karena buah ini beserta perlengkapan yang sudah dijelaskan di atas banyak dijual di pinggir-pinggir jalan kota besar. Umumnya sepaket buah pinang, batang sirih dan kapur dijual dengan harga Rp. 10.000 per plastiknya.

Satu plastic berisi 10 hingga 15 buah, tergantung besar kecilnya ukuran buah. Namun bagi masyarakat asli Papua, paket ini bisa habis dalam sekali konsumsi. Rata-rata mereka bisa menghabiskan 5 hingga 10 paket. Wah sungguh luar biasa bukan?

Jadi bagaimana apakah kamu tertarik untuk merasakan budaya makan pinang di Papua ini? Selain destinasi wisata yang keren, semua kulinernya juga menggugah selera. Tenang saja, tidak berbahaya dan sangat aman bagi kesehatan. Jika tidak percaya, bisa kamu buktikan sendiri.

Share Button